Oleh Agus Supriyanto
Berita yang mengejutkan muncul di pagi hari saat Ujian Nasional tingkat SMP berlangsung: "Sepulang mengikuti Ujian Nasional (UN) kemarin, Kar (14), sudah ditunggui polisi di rumahnya, di Jl. KH. Azhari, Lr. Pedatuan Darat, kelurahan 12 Ulu, kecamatan SU II, Palembang. Sebab pelajar kelas III SMP swasta di kawasan SU II itu, dilaporkan telah menyodomi empat bocah, yang diantaranya kerabat dan tetangganya sendiri." (Sumeks, Rabu, 29 April 2009, hlm 32).
Berita ini menyeruak mencuri perhatian pembaca diantara berita-berita besar lain. Apa yang telah terjadi dengan banyak anak remaja jaman sekarang ini? Salah satu masalah penting yang dihadapi oleh remaja jaman sekarang ini menyangkut hubungan antara remaja pria dan wanita dalam pacaran dengan seluk beluknya.
Pacaran saat remaja? Pacaran di kalangan remaja sudah menjadi sebuah realitas yang bisa disaksikan setiap hari. Pacaran di kalangan remaja memiliki problema tersendiri. Dan boleh percaya atau tidak, sebagian besar hubungan cinta remaja memiliki titik lemah di dalam masalah keseimbangan, kesetaraan dalam berpendapat, bersikap dan berbuat. Sebagian besar kaum remaja laki-laki melakukan dominasi terhadap pasangan perempuannya. Ketika dominasi terjadi tanpa ada perlawanan dari pasangan perempuan untuk kembali menyetarakan posisinya dalam hubungan cinta mereka, akan muncul kondisi yang disebut dating violence, kekerasan dan pelanggaran etika fisik maupun psikis dalam hubungan cinta.
Judul di atas merupakan sub judul buku tulisan Sony Set, yang pantas dibaca oleh para remaja, orang tua, pendidik, pemilik warnet dan semua orang. Kiranya perlu ada penelitian seluk beluk kekerasan yang terjadi di kalangan remaja yang sedang berpacaran dan yang memakan korban para perempuan. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengamati realitas dating yang dijalankan oleh para remaja usia sekolah SMP dan SMA. Kita mengetahui bahwa problem pacaran mulai muncul ketika sepasang remaja laki-laki dan perempuan, mencoba meresmikan hubungan mereka menjadi sepasang kekasih. Dengan demikian dimulailah sebuah petulangan cinta yang menghanyutkan. Ketika cinta bersemi, nalar dan logika yang seharusnya menomorsatukan prinsip kehati-hatian menjadi tumpul.
Dan korban dari perasaan cinta yang menumpulkan akal ini sebagian besar adalah kaum perempuan. Sebagian besar remaja di usia-usia awal memasuki masa puber mencontoh perilaku dating orang yang lebih dewasa. Mereka sedang berusaha menjadi orang dewasa dalam usia yang masih sangat muda. Early Dating ini mendorong remaja cepat melakukan eksplorasi hubungan seksual akibat kehilangan kendali atas gejolak hasratnya.
Repotnya, orang tua menganggap early dating hanyalah cinta monyet yang sama sekali tidak serius, meskipun pada kenyataannya justru bisa mengarah ke dating violence. Sony Set dalam bukunya Teen Date Violence, mengidentifikasi Dating Violence mewujud dalam berbagai bentuk: intimidasi, melanggar privasi, ancaman, menggunakan hak istimewa laki-laki, membatasi kebebasan, penghinaan, pengasingan dan gangguan (hlm 44-47).
Repotnya lagi kultur Indonesia bahkan banyak membuat korban dating violence tidak berani berbicara dan mengungkapkan kekerasan yang dialaminya. Kiranya remaja perempuan perlu membaca buku ini agar bisa mengetahui seluk beluk violence yang biasa dilakukan oleh para remaja laki-laki, sehingga kalau dirinya menjumpai pengalaman yang sama bisa mengambil sikap yang tepat dan bijaksana, agar dirinya tidak terjebak di dalam permasalahan yang sama.
Masalah dating violence di kalangan remaja juga berjalan seiring dengan maraknya masalah pornografi yang sudah menjamur di mana-mana. Dari beberapa kasus kita menemukan bahwa remaja bergerak dari konsumen pornografi menjadi pelaku. Semuanya itu merupakan wujud nyata dari dating violence. Kita juga tahu bahwa dating violence sudah memasuki dunia maya. Para remaja bisa menggunakan sarana dunia maya yang berkembang cepat untuk melakukan dating. Orang tua perlu waspada terhadap permasalahan ini.
Para orang tua perlu belajar lebih untuk mempelajari trend dunia remaja jaman sekarang sehingga bisa mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, tidak terjadi dalam diri anak remaja mereka. Para orang tua, pendidik dan siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap kehidupan dan perkembangan remaja kiranya selalu membangun keterbukaan dan kepekaan bagi remaja jaman sekarang. Kita mesti bisa menjadi pendengar yang baik di kala remaja sedang kalut dalam permasalahan pergaulan dengan lawan jenis/ pacaran, sehingga remaja merasa aman untuk bercerita tentang permasalahannya. Untuk selanjutnya mampu menawarkan jalan keluar yang bisa diterima oleh remaja dan yang bisa dipertanggung jawabkan secara moral.
Kita dituntut untuk semakin terbuka terjadap realitas pacaran jaman sekarang seraya membuka diri terhadap ajakan dari orang yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan dan pendidikan anak remaja untuk melakukan perlawanan terhadap dating violence yang bisa menghancurkan generasi remaja dan muda tanpa harus melalui sebuah pemberontakan. Pembentukan moral anak dan pergaulan yang berpegang pada nilai-nilai positif dan yang mengembangkan perlu selalu dibangun terus menerus. Sony Set dalam bukunya juga mengajak para pembaca untuk terlibat lebih jauh dalam pembentukan moral pergaulan anak dengan
terlibat dalam gerakan: "Jangan Bugil di Depan Kamera/ JBDK" sebab dating violence memiliki hubungan sebab akibat dengan pornografi. Semoga ajakan dari Sony Set ini mendapat tanggapan positif dari siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap kehidupan remaja jaman sekarang.
Marilah kita membangun kesadaran bersama bahwa dating violence adalah masalah yang harus diselesaikan bersama bukan sendiri-sendiri. Perlu diingat dating violence bisa datang setiap saat dalam kehidupan cinta kita. Semoga semakin banyak orang melandaskan hubungan cinta pada rasa saling menghormati dan menyayangi serta saling mengembangkan bukan dengan tuntutan pengorbanan yang diganti dengan kekerasan.
*Pendidik di SMP Kusuma Bangsa, Palembang
*diambil dari link :
http://www.sumeks. co.id/index. php?option= com_content& task=view& id=10184& Itemid=44
Via Milist Forum Pembaca KOMPAS oleh Sony Set
Minggu, 17 Mei 2009
Stop Kekerasan Saat Pacaran
Label: Pacaran
Diposkan oleh Adnun Salampessy, S.Hut di 08:13 0 komentar Link ke posting ini
Rabu, 06 Mei 2009
Setiap Tahun Gajah Memang Lewat Situ
JAMBI, KOMPAS.com - Entah manusianya yang bodoh atau gajah yang dipaksa harus lebih pintar. Ketika konflik masyarakat dan gajah mencuat kembali ternyata terjadi di wilayah-wilayah yang hampir sama setiap tahun. Namun, selalu saja gajah yang disalahkan ketika lagi-lagi merusak perkebunan.
Konflk terakhir terjadi saat rombongan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) melintas beberapa hari terakhir. Masyarakat di Desa Sekutur Jaya, Kecamatan Sere Serumpun, Kabupaten Tebo, Jambi, mengeluhkan rusaknya tanaman sawit mereka karena dimakan dan diinjak-injak oleh rombongan gajah yang tengah melintas. Terdata setidaknya 210 hektare areal perkebunan sawit dan pondokan yang dirusak.
"Masyarakat mengeluh karena tanaman sawitnya dirusak, pondokannya juga hancur," ujar Didy Wurjanto, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jambi akhir pekan lalu. Ia mengatakan, konflik antara gajah dan warga memang meningkat dalam sepekan ini.
Hal tersebut terjadi karena kebun sawit dibangun di areal perlintasan gajah sumatera tersebut. Daerah yang tadinya hutan itu telah diubah menjadi perkebunan sawit sejak empat tahun terakhir. Sejak saat itu, konflik antara gajah dan warga desa selalu terjadi bahkan rutin tiap tahun.
Menurutnya, kawasan di wilayah Tebo tersebut sejak lama merupakan area perlintasan gajah sumatera. Rombongan gajah biasanya melintasi kawasan ini sepanjang akhir April hingga Mei. Berdasarkan data dari Frankfurt Zoological Society (FZS), lembaga swadaya yang bergerak pada upaya konservasi satwa liar di Jambi, jumlah kawanan tersebut diperkirakan 30-an ekor, dan sebagian besar adalah betina.
Selain daerah tersebut merupakan areal perlintasan gajah, ruang gerak gajah semakin sempit akibat maraknya pembukaan lahan untuk tanaman sawit. Sumber makanan gajah berkurang sehingga karena berganti menjadi sawit, sehingga gajah pun memakan daun-daun sawit mudah yang masih berusia hingga tiga tahun.
Penanganan konflik antara gajah dan manusia, lanjut Didy, perlu dilakukan secara komprehensif. Kegiatan menghalau gajah lebih jauh ke dalam hutan, hanya merupakan penanganan sesaat. Gajah akan kembali melintasi kawasan tersebut di waktu yang sama pada tahun berikutnya. Sedangkan, membawa rombongan gajah itu ke Taman Nasional Bukit Tigapuluh, membutuhkan personil dan dana yang sangat besar.
Untuk itu, lanjutnya, diperlukan penataan dalam pembukaan perkebunan sawit maupun hutan tanaman industri dengan memerhatikan aspek keberadaan satwa liar di dalamnya. Masyarakat harus paham bahwa hewan tak sepintar manusia sehingga harus bisa menyesuaikan. Hanya mengandalkan BKSDA untuk menghalau rombongan gajah yang besar juga bukan jalan terbaik.
"Perkebunan masyarakat perlu ditata, dan pembukaan hutan tanaman industri perlu dikendalikan. Saat ini Jambi ramai dengan rencana pembukaan HTI yang sangat marak. Inilah yang mengancam keberadaan satwa-satwa liar. Padahal, Jambi tergolong kaya akan beragam jenis satwa dilindungi," tutur Krismanko Padang dari Frankfurt Zoological Society. Sayangnya, pembukaan hutan kadang-kadang bukan atas keinginan masyarakat sekitar melainkan iming-iming dari pemilik modal yang hanya mementingkan keuntungan material saja.
Pada bulan yang sama tahun lalu, empat gajah tewas dibantai dan dibakar oleh sekelompok orang di Desa Tuo Sumay dan Desa Muara Sekalo, Kecamatan Sumay, Tebo. Pembantaian itu diduga akibat warga marah tanaman sawitnya dirusak oleh rombongan gajah. Sebulan kemudian, seekor bayi gajah betina berusia tiga tahun mati di areal perkebunan sawit PT Inti Starindo Agromakmur di Desa Semambu, Sumay, Tebo. Gajah tersebut diduga diracun.
ITASumber : http://sains.kompas.com/read/xml/2009/05/05/01522339/setiap.tahun.gajah.memang.lewat.situ.
Label: Berita Menarik
Diposkan oleh Adnun Salampessy, S.Hut di 05:14 0 komentar Link ke posting ini
Jumat, 01 Mei 2009
Hentikan Model Pengelolaan Air Berbasis Ekonomi dan Kembali ke Model yang Berdasarkan Kearifan Lokal
debtWATCH Indonesia, Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air (KRuHA), Aliansi Rakyat untuk Citarum (ARUM)
Model pengelolaan air yang didorong oleh ADB terbukti gagal untuk memenuhi kebutuhan rakyat atas air yang merupakan hak asasi manusia. ADB terus menerus mendorong kepada pemerintah negara-negara peminjam, untuk menerapkan konsep air sebagai barang ekonomi sebagai prasyarat pinjaman. Air sebagai barang ekonomi dipastikan akan mendorong privatisasi, komersialisasi dan komodifikasi air. Konsep air sebagai barang ekonomi diterapkan dalam pengelolaan sungai, irigasi dan penyediaan layanan air bersih. Konsep air sebagai barang ekonomi dalam prakteknya akan mengedapankan kepentingan swasta, misalnya melalui model Kemitraan antara Publik dan Swasta (PPP) dan bukan kepentingan publik.
Pengalaman beberapa negara Asia membuktikan kegagalan ini, seperti yang terjadi di Indonesia melalui pinjaman Integrated Citarum Water Resources Management Investment Program (ICWRMIP) dimana pinjaman ini bertujuan untuk melakukan efisiensi pengggunaan air irigasi sehingga bisa dialokasikan untuk penggunaan air yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi seperti keperluan domestik dan industri. Kedua, adalah untuk meningkatkan pasokan air bersih untuk konsumsi Jakarta. Selain itu pinjaman ini juga merupakan “ajang” ujicoba dalam menerapkan konsep pengelolaan wilayah sungai terpadu (Integrated Water Resource Management – IWRM) yang belum terbukti keberhasilannya. Proyek ICWRMIP juga menggunakan skema pendanaan baru yaitu Multi-tranche Financing Facility (MFF), dimana para Dewan Direksi ADB dapat menyetujui seluruh tahapan proyek di awal proyek, dan masih dipertanyakan keefektifannya.
Terkait dengan proyek diatas, ADB juga memberikan pinjaman kepada perusahaan pengelola air Jakarta, PT. Pam Lyonaise Jaya (Palyja) untuk memperbaiki pelayanan dan memperbanyak sambungan. Padahal, pengalaman membuktikan, bahwa sejak pengelolaan air bersih di Jakarta diserahkan dari tangan PAM Jaya kepada dua perusahaan swasta asing, Lyonaise dari Perancis dan Thames dari Inggris (sekarang dimiliki oleh Aquatico), kulitas pelayanan air bersih di Jakarta tidak juga membaik.
Di Sri Lanka, keterlibatan ADB dimulai sejak tahun 1995, dengan tujuan mereformasi kebijakan di sector air di Negara tersebut. Kebijakan tersebut mulai dibuat pada tahun 2001. Namun kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat tersebut kemudian dihentikan karena protes masyarakat melalui kampanye selama 6 bulan. Namun kemudian RUU tersebut mulai diproses kembali pada tahun 2003 yang juga gagal karena mendorong privatisasi air, dan akhirnya untuk ketiga kalinya pada tahun 2008. Saat ini, walaupun airmasih berada di tangan public, namun ada 140 perusahaan airminumkemasan yang beroperasidi Sri Lanka.
Sedangkan yang terjadi di Filipina, juga hampir sama seperti yang terjadi di Indonesia dan Sri Lanka. ADB memberikan pinjamannya untuk Metro Manila Water and Sanitation System (MWSS) – perusahaan Negara yang menyediakan air bersih untuk Metro Manila – sejak tahun 1974. Pada tahun 1995, keluar kebijakan baru yang memperbolehkan privatisasi air atau keterlibatan sektor swasta dalam pengelolaan air bersih. Namun setelah beberapa tahun terbukti bahwa pihak-pihak swasta tersebut gagal karena tidak dapat memenuhi janjinya untuk melayani kebutuhan air bersih masyarakat di Manila.
Sebenarnya, masih banyak konsep lain yang sudah terbukti keberhasilannya dalam mengelola sumber daya air, dan tidak merugikan kepentingan publik. Seperti misalanya konsep PuP (Public to Public Partnership) ataupun menggunakan sistim pengelolaan berbasis lokal seperti Subak.
Karena itu, lembaga-lembaga yang terdiri dari debtWATCH Indonesia, KRuHA (Koalisi Rakyat untuk Hak atas Air), Aliansi Rakyat untuk Citarum (ARUM), menuntut agar:
1. ADB dan Pemerintah Indonesia agar tidak memaksakan konsep air sebagai barang ekonomi yang tidak berpihak pada kepentingan publik sebagai prasayarat dalam pinjaman-pinjamanny a di sektor air,
2. ADB dan Pemerintah Indonesia menghentikan proyek ICWRMIP dan selanjutnya meninjau ulang konsep proyek yang terkait dengan air termasuk proyek ‘Flood Management in Selected River Basin’ yang juga menggunakan skema pendanaan MFF dari ADB.
Sumber : Milist Jurnalisme
Label: Berita Menarik
Diposkan oleh Adnun Salampessy, S.Hut di 06:34 0 komentar Link ke posting ini
